Kamis, 10 Juli 2014

Sejarah Blitar part 2 ( Kabupaten Blitar )

Asal mula tampilan wilayah yang kini menjadi daerah Kabupaten Blitar, yang paling tua tercatat dalam prasasti Kinewu dipahatkan pada belakang arca Ganesa dari abab X. Prasasti itu memberikan petunjuk bahwa wilayah Kabupaten Blitar, merupakan bagian dari kerajaan Balitung yang berpusat di Jawa Tengah.
Ketika pusat Pemerintah pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar abad ke-X, sejarah daerah Kabupaten Blitar dapat diketahui berdasarkan prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja dinasti Isana. Selama Pemerintahan raja-raja ini berlangsung diantarannya awal abad ke-X sampai dengan akhir abad ke-XII, beberapa tempat yang sekarang termasuk Wilyah Kabupaten Blitar disebut dalam prasasti-prasasti Pandelegan I 1117, Panumbangan I 1120, Geneng I 1128, Talang 1136, Japun 1144, Pandelegan II 1159, Mleri 1169, Jaring 1181, Semanding 1182, Palah 1197, Subhasita 1198, Mleri I 1198 dan Tuliskriyo 1202.
Ketika kerajaan Singasari berkembang ada beberapa prasasti yang berhubungan dengan daerah Kabupaten Blitar sekarang. Prasasti tersebut dikeluarkan pada masa Pemerintahan Raja Kartanegara (1268-1292) yang dikenal dengan prasasti Petung Ombo 1260 M. beberapa peningalan purbakala yang berasal dari zaman Singasari seperti: patung Ganesa dari Boro dan Candi Sawentar membuktikan bahwa semasa Pemerintahan raja-raja Singasari, daerah Kabupaten Blitar telah memegang peranan yang penting.
Pada zaman majapahit kedudukan daerah Kabupaten Blitar menjadi sangat penting. Hal itu terbukti dengan adanya candi Kotes yang didirikan pada masa Pemerintahan Pendiri Kerajaan Majapahit yaitu Nararya Wijaya atau Kerta Rajasa Jayawardana (1294-1309). Candi makam raja itu terletak di desa Sumberjati dukuh Simping Kecamatan Suruhwadang.
Saat yang sangat penting bagi pertumbuhan sejarah Kabupaten Blitar dewasa ini terdapat pada masa Pemerintahan Raja Jayanegara (1309-1328). Salah satu prasastinya ditemukan di desa Blitar sekarang. Prasasti tersebut dikenal dengan prasasti Blitar I yang bertarikah “Swasti sakawarsatita 1246 Srawanamasa tithi pancadasi Suklapaksa wu para wara ….” atau 5 Agustus 1324 Masehi. Prasasti ini memuat saat berdirinya Blitar sebagai daerah Swatantra.
Masa-masa pemerintahan Raja-raja Majapahut kemudian, nama Blitar berkali-kali disebutkan dalam kitab nagarakertagama yang ditulis Empu Prapanca. Naskah ini selesai ditulis bertepatan dengan 1 Oktober 1363 M. Blitar dan tempat-tempat lain telah dikunjungi oleh raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajahmada dalam rangka perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Wilayah Jawa Timur yang dimulai pada Tahun 1357 M.
Beberapa peningalan yang berupa candi membuktikan bahwa sepanjang abad XIV hingga akhir abad XV kedudukan Blitar semakin penting. Hal ini terbukti dari adanya candi Penataran yang merupakan candi negara sebagian besar berasal dari masa Pemerintahan Jayanegara hingga Wikramawardhana (1389-1429). Peninggalan dari raja terakhir ini sekarang terdapat di lereng Gunung Kelud yang sekarang dikenal dengan nama Candi Gambar Wetan (1429M).
Maka berdasarkan uraian diatas diambil keputusan bahwa HARI LAHIR KABUPATEN BLITAR ialah 5 AGUSTUS 1324. (www.blitarkab.go.id)

Selasa, 08 Juli 2014

Sejarah Blitar part 1 ( Kota Blitar )

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/5/55/Lambang_Kota_Blitar.png/100px-Lambang_Kota_Blitar.png Berdasarkan legenda, dahulu bangsa Tartar dari Asia Timur sempat menguasai daerah Blitar yang kala itu belum bernama Blitar. Majapahit saat itu merasa perlu untuk merebutnya. Kerajaan adidaya tersebut kemudian mengutus Nilasuwarna untuk memukul mundur bangsa Tartar.
Keberuntungan berpihak pada Nilasuwarna, ia dapat mengusir bangsa dari Mongolia itu. Atas jasanya, ia dianugerahi gelar sebagai Adipati Aryo Blitar I untuk kemudian memimpin daerah yang berhasil direbutnya tersebut. Ia menamakan tanah yang berhasil ia bebaskan dengan nama Balitar yang berarti kembali pulangnya bangsa Tartar.
Akan tetapi, pada perkembangannya terjadi konflik antara Aryo Blitar I dengan Ki Sengguruh Kinareja yang tak lain adalah patihnya sendiri. Konflik ini terjadi karena Sengguruh ingin mempersunting Dewi Rayung Wulan, istri Aryo Blitar I.
Singkat cerita, Aryo Blitar I lengser dan Sengguruh meraih tahta dengan gelar Adipati Aryo Blitar II. Akan tetapi, pemberontakan kembali terjadi. Aryo Blitar II dipaksa turun oleh Joko Kandung, putra dari Aryo Blitar I. Kepemimpinan Joko Kandung dihentikan oleh kedatangan bangsa Belanda. Sebenarnya, rakyat Blitar yang multietnis saat itu telah melakukan perlawanan, tetapi dapat diredam oleh Belanda. (wikipedia.org/wiki/Kota_Blitar).Setelah Indonesia merdeka pada sekitar tahun 1950an keluarlah undang-undang no 17 tahun 1950 bahwa BALITAR berubah menjadi BLITAR dan di bentuk sebagai kabupaten Blitar.
Cerita lainnya berkisah bahwa asal mula nama Blitar berdasarkan prasasti yang ditemukan di Kelurah Blitar, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar yang berasal dari masa Raja Jayanegara yang bertarikh saka 1246 (1324 Masehi) , tidak memuat nama Balitar, dikarenakan prasastinya aus. Sedangkan karya sastra yang dapat menjadi acuannya adalah Kitab Nagarakertagama. Pertama-tama adalah perjalanan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit yang dilaksanakan tiap tahun yaitu,

“… Yan tan mangka mareng phalah mareki jong hyang acala pati bhakti sadara, pantes yan panulus dhateng ri balitar….”, yang artinya “….. bila tidak demikian Baginda pergi ke Palah memuja Hyang Acala Pati, dengan bersujud, biasa juga terus ke Balitar (Riana, 2009: 116).

Selain itu juga termuat dalam kisah kunjungan Hayam Wuruk ke Simping

…. Ndan ring saka tri tanu rawi ring wesaka, sri na-/- tha muja mara ri palah sabrtya, {30a} jambat sing ramya pinaraniran langlitya, ri lwang wentar manguri balitar mwang jimbe. …..”, artinya “… lalu pada tahun saka Tritanurawi—1283 (1361 Masehi) bulan Wesaka—April-Mei, Baginda Raja memuja (nyekar) ke Palah dengan pengiringnya, berlarur-larut setiap yang indah dikunjungi untuk menghibur hati, di Lawang Wentar Manguri Balitar dan di Jimbe….” (Riana, 2009: 302-306).
Selanjutnya nama Blitar juga disinggung dari uraian naskah perjalanan Bujangga Manik yang dimana diuraikan bahwa setelah dari Rabut Palah, Bujangga Manik mengunjungi daerah Balitar melewati Waliring, dan Polaman. “…Leu(m)pang aing marat ngidul, nepi aing ka Waliring, ngalalaring ka Polaman, datang aing ka Balitar…” (Noordyun & A. Teeuw, 2009: 304).
Nama Palah atau Rabut Palah kini berubah menjadi Kompleks Candi Penataran yang dimana di depan Candi Induk terdapat Prasasti Palah pada masa era Kerajaan Panjalu (Kadiri) dibawah pemerintahan Raja Kertajaya. Adapun prasasti yang ditemukan di Kelurah Blitar, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar yang berasal dari masa Raja Jayanegara yang bertarikh saka 1246 (1324 Masehi) , tidak memuat nama Balitar, dikarenakan prasastinya aus. Sedangkan karya sastra yang dapat menjadi acuannya adalah Kitab Nagarakertagama. Pertama-tama adalah perjalanan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit yang dilaksanakan tiap tahun yaitu,
“… Yan tan mangka mareng phalah mareki jong hyang acala pati bhakti sadara, pantes yan panulus dhateng ri balitar….”, yang artinya “….. bila tidak demikian Baginda pergi ke Palah memuja Hyang Acala Pati, dengan bersujud, biasa juga terus ke Balitar (Riana, 2009: 116).

Selain itu juga termuat dalam kisah kunjungan Hayam Wuruk ke Simping

…. Ndan ring saka tri tanu rawi ring wesaka, sri na-/- tha muja mara ri palah sabrtya, {30a} jambat sing ramya pinaraniran langlitya, ri lwang wentar manguri balitar mwang jimbe. …..”, artinya “… lalu pada tahun saka Tritanurawi—1283 (1361 Masehi) bulan Wesaka—April-Mei, Baginda Raja memuja (nyekar) ke Palah dengan pengiringnya, berlarur-larut setiap yang indah dikunjungi untuk menghibur hati, di Lawang Wentar Manguri Balitar dan di Jimbe….” (Riana, 2009: 302-306).
Sealanjutnya nama Blitar juga disinggung dari uraiaan naskah perjalanan Bujangga Manik yang dimana diuraikan bahwa setelah dari Rabut Palah, Bujangga Manik mengunjungi daerah Balitar melewati Waliring, dan Polaman. “…Leu(m)pang aing marat ngidul, nepi aing ka Waliring, ngalalaring ka Polaman, datang aing ka Balitar…” (Noordyun & A. Teeuw, 2009: 304).
Nama Palah atau Rabut Palah kini berubah menjadi Kompleks Candi Penataran yang dimana di depan Candi Induk terdapat Prasasti Palah pada masa era Kerajaan Panjalu (Kadiri) dibawah pemerintahan Raja Kertajaya. (http://yasirmaster.blogspot.com/2011/09/munculnya-nama-blitar.html)
 Sebagai pendiri Blitar makam Aryo Blitar pun dijadikan petilasan yang ramai dikunjungi pada bulan Suro (Muharram) dan setiap malam Jumat legi, makam ini terletak di Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo.